19 Keistimewaan Wanita & 4 Golongan Lelaki yang Ditarik Wanita ke Neraka

Senin, 09 Agustus 2010

19 Keistimewaan Wanita

Berbahagialah wahai wanita shalehah. Sebab Rasulullah SAW bersabda, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah." (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa'i). Disisi lain berhati-hatilah sebab Beliau SAW juga berpesan tentang fitnah terbesar dari kaum mu, "Tidak ada suatu fitnah (bencana) yang lebih besar bahayanya dan lebih bermaharajalela-selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain daripada fitnah yang berpuncak daripada kaum wanita." (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah).

  1. Do'a wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda: "Ibu lebih penyayang daripada Bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

  2. Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.

  3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

  4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukai akan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.

  5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam surga.

  6. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.

  7. Dari Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka."

  8. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.

  9. Apabila memanggilmu dua orang ibu bapamu maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.

  10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

  11. Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sholat dan puasanya).

  12. Aisyah r.a. berkata, "Aku bertanya pada rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?" Jawab baginda, "suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."

  13. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.

  14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun).

  15. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.

  16. Apabila seorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT.

  17. Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkan.

  18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan.

  19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

Dikutip dari arsip UNIC Virtual Komuniti, dengan perubahan seperlunya tanpa mengubah makna.

4 Golongan Lelaki yang Ditarik Wanita ke Neraka

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan ahli (keluarga) mu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;... - Q.S. At-Tahrim (66: 5).

Betapa hebatnya daya pikat dan tarikan wanita, bukan saja di dunia. Namun di akhirat pun demikian, maka kaum lelaki yang bergelar ayah, suami, abang, atau anak harus memainkan peranan mereka dengan sungguh-sungguh. Seorang wanita itu apabila di yaumil alkhirat nanti akan menarik empat golongan lelaki bersamanya ke dalam neraka. Tulisan ini bukan untuk merendahkan wanita, tetapi sebaliknya supaya kaum lelaki memainkan peranannya sesuai hak dan seksama, serta berwaspada akan tanggung jawab yang dipikul di dunia!


  1. Ayahnya
    Apabila seseorang yangg bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar sholat, mengaji, dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup hanya memberi kemewahan dunia saja maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

  2. Suaminya
    Apabila sang suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di luar rumah, menghias diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan muhrim. Apabila suami berdiam diri walaupun dia seorang alim, misalkan sholat tidak lalai, puasa tidak tinggal, maka dia akan turut ditarik oleh isterinya kelak.

  3. Abangnya
    Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga wanita jatuh ke pundak abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran Islam, tunggulah tarikan sang adik wanita di akhirat nanti.

  4. Anak lelakinya
    Apabila seorang anak tidak menasihati ibu perihal tindak-tanduk yang menyimpang dari Islam. Bila ibu membuat kemungkaran pengumpat, bergunjing, dan lain sebagainya maka anak lelaki itu akan ikut di tanya serta diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak.

Dikutip dari arsip UNIC Virtual Komuniti dan situs web Kota Santri dengan perubahan seperlunya tanpa mengubah makna.

"Wahai wanita, kasihanilah ayah anda, suami anda, abang-abang anda serta anak-anak lelaki anda....
Kasihanilah mereka dan diri anda sendiri....
Jalankanlah perintah ALLAH SWT. dengan sungguh-sungguh dan ikhlas."

Haji

Oleh Gede H. Cahyana

Dulu, waktu masih di sekolah menengah di Bali, aku sering bertanya-tanya dan terheran-heran kenapa orang-orang berduyun-duyun pergi ke Mekkah. Kudengar ada yang naik kapal selama berbulan-bulan berlayar menuju Arab Saudi. Berbulan-bulan pula waktunya untuk kembali ke Indonesia. Mereka rela meninggalkan sanak famili dan keluarganya dalam tempo lama dan banyak yang pulang hanya namanya saja. Ada yang meninggal di Mekkah, di Madinah, di dalam kapal atau dalam perantauan di negeri seberang. Bahkan kalau tak salah, pada tahun 1978 ada pesawat jamaah haji meledak di Colombo, Srilangka yang menewaskan semua penumpangnya. Pernah pula terjadi tragedi terowongan Mina dan ribuan insiden desak-injak ketika jumrah. Jika semua tragedi tersebut dicermati bisa dikatakan haji adalah ibadah berisiko tinggi yang sarat peminat. Kurang lebih 2,4 juta orang bakal menjadi tamu Allah tahun 1426 H ini. Itu pun lantaran diberlakukan kuota yang direlasikan dengan jumlah penduduk. Andai tanpa kuota bisa dipastikan jumlahnya jauh lebih banyak lagi dan otomatis kian merepotkan pemerintah Saudi dalam melayaninya.

Membaca sejumlah tragedi dan insiden tersebut membuatku makin "pusing" dan tak habis pikir. Betul-betul tak masuk akal bagiku, paling tidak sampai aku tamat SMA. Apa sebetulnya yang mereka cari? Datang dari jauh berkorban daya, dana, tenaga, raga, dan bahkan jiwa hanya untuk mengelilingi Ka'bah dan diam duduk-duduk di tengah terik mentari padang Arafah. Sungguh aneh bagiku, bagi remaja tahun 1980-an. Apalagi ada dogma yang bagiku tak masuk akal dan sering tak sejajar dengan prinsip beragama. Betulkah orang yang berhasil berangkat ibadah haji akan mampu "naik" ke surga? Barangkali inilah sebabnya ibadah haji pada masa Orde Baru disebut "naik haji" dengan harapan setelah mendapat "titel" haji mereka berhak "naik" ke surga. Apa betul surga bisa "dibeli" dengan naik haji? Bagaimana kalau ongkos pergi haji itu berasal dari uang KKN? Pertanyaan yang satu ini bahkan mengejarku sampai sekarang karena tak jua terjawab. Berbagai-bagai ulama pernah kutanyai dan rata-rata jawabannya stereotipe, standar normatif, nyaris tanpa argumen baru.

Betulkah surga bisa dibeli dengan "naik" haji? Aku bimbang. Aku ragu. Suatu kali aku mendengar kisah tentang orang yang gagal naik haji padahal uang dan bekalnya telah cukup. Bertahun-tahun sedikit demi sedikit laba hasil jualannya di pasar dikumpulkan sehingga cukup untuk ongkos berangkat haji. Ketika hendak berhaji (sayang sekali atau mungkin juga untung sekali) tetangganya jatuh sakit. Sakit parah yang perlu biaya banyak tapi tak punya uang cukup untuk berobat. Melihat hal itu, orang yang hendak ibadah haji tadi memberikan uangnya untuk pengobatan. Nyaris habis uang ongkos pergi hajinya itu untuk berobat dan operasi. Lantaran tak punya lagi uang, gagallah dia pergi haji. Sedihnya lagi, tetangga yang ditolongnya itu tiga bulan kemudian berpulang ke rahmatullah lantaran komplikasi penyakitnya.

Bayangkan, dia kumpulkan uang sepeser demi sepeser selama bertahun-tahun untuk ibadah haji dan telah pula memberitahu tetangga dan keluarganya bahwa dia akan berangkat ke Mekkah, tapi batal lantaran ada tetangganya yang sakit keras dan butuh biaya besar untuk operasi. Meskipun berhasil dioperasi namun Allah ternyata berketentuan lain. Dia mewafatkannya setelah jutaan rupiah uang dikeluarkan. Siapa yang tak sedih? Terlebih lagi bisa diduga, tahun depan pun belum tentu dia bisa berangkat haji karena harus mengumpulkan sen demi sen lagi hasil dagangannya di pasar. Tahun itu dia gagal ibadah haji yang telah puluhan tahun diharap-harapnya. Kalau demikian, jika dibandingkan, siapa yang berhasil ibadah haji, apakah orang yang "sukses" menginjak tanah Arafah ataukah orang yang menolong berobat tetangganya tapi gagal berangkat?

Menurut riwayat, orang yang gagal ibadah haji itu secara de jure justru mendapatkan predikat haji. Dia telah menerapkan spirit dan pola hidup orang yang berhaji walaupun de facto dia tak ke Mekkah. Apalagi tujuannya pergi haji bukanlah untuk mendapatkan titel haji melainkan semata-mata demi ibadah, melaksanakan kewajibannya sebagai muslim setelah rutin menunaikan rukun Islam lainnya. Dia dulu telah syahadat dan rutin pula syahadat ketika shalat. Dia telah shaum Ramadhan sebagai kendali penyaluran uang laba dagangnya setelah dibayarkan zakatnya. Tak hanya zakat yang dia tunaikan, sedekah dan sumbangan sosial pun dia tebarkan. Tiadalah pengemis yang menyambangi rumahnya kecuali ada sejumput dua jumput makanan yang dibagikannya. Itulah karakternya yang bermetamorfosis dari uang laba dagangnya, uang halal yang sen demi sen dikumpulkannya.

Pada kali lain, aku juga melihat orang yang berhaji dan bahkan berkali-kali ibadah haji tapi menjadi penyakit masyarakat. Dia bertitel haji tapi perilakunya tak paralel dengan spirit hajinya, bertentangan secara diametral. Dia seperti orang nonmuslim yang tidak shalat dan tidak zakat. Hanya puasa Ramadhan yang dia lakukan tapi itu pun tak tahu pasti apakah dia betul-betul saum atau sekadar pura-pura saum. Boleh jadi diam-diam dia makan minum di kesepian tanpa ada yang tahu. Pernah juga aku dengar orang yang sering berhaji tapi senang menjadi rentenir. Senang bergunjing dan menjelek-jelekkan saudaranya, tetangganya. Kerapkali pula kudengar lontaran kalimat dari seorang ustadz bahwa banyak orang sepulang haji menjadi haji tomat. Tobat sebentar, paling lama 40 hari, lalu kumat lagi. Kudengar banyak orang berhaji agar bisa mendapatkan proyek dan jabatan "basah" di kantornya atau agar dirinya kembali menjadi selebriti terkenal setelah redup dikalahkan pendatang baru dan kembali berpenampilan "panas", melupakan baju ihramnya selama berhaji.

Haji-hajjah demikian, yaitu hajinya orang-orang yang berbuat maksiat dan tidak melaksanakan rukun Islam lainnya terutama shalat dan saum Ramadhan akankah mampu membuka pintu surga lalu masuk ke dalamnya? Karena penasaran, kubuka-buka al Qur'an dan kubaca ayat 41 surat al-Hajj yang terjemahnya kurang lebih seperti ini. Bahwa seharusnya orang-orang yang sudah diteguhkan kedudukannya di bumi harus mendirikan (bukan melaksanakan) shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah perbuatan mungkar. Jadi, paradoks sekali apabila orang berhaji tapi tidak shalat dan tidak zakat. Tambah ironis lagi jika mereka justru berbuat mungkar dan mencegah orang berbuat baik atau justru sengaja menjerumuskan orang lain agar berbuat buruk seperti dirinya. Harapannya, jika KKN-nya terbongkar maka dia akan dapat menyeret semua orang ke dalam kasus hukum dengan harapan kasusnya bisa dipetieskan karena takkan tuntas disidik.

Lantas, manakah yang lebih layak naik ke surga, orang yang gagal berhaji lantaran menolong tetangganya ataukah yang berhasil ke Mekkah? Satu pertanyaan lagi, bagaimana kalau uang ongkosnya berasal dari aktivitas haram seperi KKN atau berdagang dengan cara menipu pembeli dan tak jujur dalam menimbang? Apakah orang berhaji yang selalu menuliskan huruf H atau Hj di depan namanya lebih mulia ketimbang orang yang gagal berhaji sehingga tak punya huruf H atau Hj di depan namanya? Apalah arti sebuah huruf? Bagi perendah diri, dia akan bergantung pada label-label dan titel untuk mendongkrak rasa percaya dirinya. Dia aktualkan dirinya di atas gelar dan merasa titel adalah kebutuhan teratasnya. Maka, sangat menarik jika aktualisasi diri itu ditempatkan pada tataran terendah, tahap awal yang mesti diujudkan dalam kehidupan manusia, khususnya kaum muslimin.

Pertanyaannya sekarang, maukah orang berhaji itu tidak memasang label H atau Hj di awal namanya dengan anggapan bahwa ibadah haji tak berbeda secara transenden dengan ibadah shalat dan puasa Ramadhan? Bedanya hanya dari sisi biaya dan makin murah jika jaraknya makin dekat dengan Arab. Taruhlah biayanya 30 juta rupiah. Harga sekian itu setara dengan biaya kuliah plus biaya kos dan makan selama empat tahun untuk meraih gelar sarjana. Adapun gelar haji/hajjah diperoleh dalam waktu singkat, hanya beberapa hari. Kalau di dunia perguruan tinggi ada gelar palsu yang diraih secara instan, jangan-jangan banyak juga yang memperoleh gelar haji/hajjah palsu. Andaikata ibadah itu dilandaskan pada gelar dan bangga menaruh gelar H atau Hj di depan namanya lantaran telah berhaji kenapa tidak meletakkan huruf S karena sudah shalat, huruf Z karena sudah zakat atau huruf P karena telah puasa Ramadhan?

Aku tak tahu. Hanya Allahlah yang Mahatahu.*

Hadits

Hadits adalah pensyarah yang menjelaskan kemujmalan (keglobalan) Al-qur'an. Misalnya di dalam Al-qur'an ada perintah untuk mengerjakan sholat, akan tetapi di dalamnya tidak dijelaskan bagaimana cara mengerjakan sholat. Semua hukum-hukum yang berkaitan dengan sholat seperti waktu sholat, rukun-rukun sholat, gerakan-gerakan sholat, pembatal-pembatal sholat, dan hukum-hukum lainnya dapat kita temukan penjelasannya di dalam Hadits Rasulullah shollollahu'alaihiwasallam.

Ada banyak ulama periwayat Hadits, namun yang sering digunakan dalam fikih Islam ada tujuh yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.

Ada bermacam-macam Hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.

==Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi==

  1. ===Hadits Mutawatir===
    Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada syarat yang harus dipenuhi baru bisa dikatakan Hadits Mutawatir:
    1. Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera
    2. Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin untuk berdusta. Sifatnya Qath'iy.
    3. Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.

  2. ===Hadits Ahad===
    Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya "Zhonniy". Kebanyakan ulama membagi Hadits Ahad itu kepada tiga macam, yaitu:

    1. ====Hadits Shahih====
      Menurut Ibnu Sholah ialah Hadits yang bersambung sanad, diriwayatkan oleh orang yang adil, dlobit dari orang yang adil lagi dlobit hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi syarat sebagai berikut:
      1. Harus bersambung sanadnya
      2. Diriwayatkan oleh orang/perawi yang adil.
      3. Diriwayatkan oleh orang yang dlobit (kuat ingatannya)
      4. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
      5. Tidak cacat walaupun tersembunyi.
      6. Kandungan Isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.

    2. ====Hadits Hasan====
      Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.

    3. ====Hadits dla'if====
      Ialah hadits yang tidak bersambung sanad dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dlobit, syadz dan cacat. Ulama yang membagi hadits menjadi tiga macam itu ialah At Turmudzy. Sebelumnya pada ulama membagi hadits menjadi dua yakni hadits shahih dan hadits dla'if.

==Macam Periwayatan==


  1. ===Hadits yang bersambung sanadnya===
    Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut 'Hadits Marfu' atau Maushul.

  2. ===Hadits yang terputus sanadnya===

    1. ====Hadits Mu'allaq====
      Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang baik seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dla'if.

    2. ====Hadits Mursal====
      Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.

    3. ====Hadits Mudallas====
      Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

    4. ====Hadits Munqathi====
      Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan Tabi'in.

    5. ====Hadits Mu'dlol====
      Disebut hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Tabi'it Tabi'in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan Tabi'in yang menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri Hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dlaif.

==Hadits-hadits Dlaif disebabkan oleh cacat perawi==


  1. ===Hadits Maudlu'===
    Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat Rawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.

  2. ===Hadits Matruk===
    yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.

  3. ===Hadits Mungkar===
    Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.

  4. ===Hadits Mu'allal===
    Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang di dalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut "Hadits Ma'lul" (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)

  5. ===Hadits Mudlthorib===
    Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.

  6. ===Hadits Maqlub===
    Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang di dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).

  7. ===Hadits Munqalib===
    Yaitu Hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.

  8. ===Hadits Mudraj===
    Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang di dalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.

  9. ===Hadits Syadz===
    Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat/pembawa) yang tsiqah pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga jarang dihapal ulama hadits, sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut hadits Mahfudz.

==Beberapa pengertian dalam ilmu hadits==


  • Muttafaq 'Alaih:
    Artinya disepakati atasnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, dikenal dengan "Hadits Bukhari dan Muslim".

  • As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu:
    1. Imam Ahmad
    2. Imam Bukhari
    3. Imam Muslim
    4. Imam Abu Daud
    5. Imam Turmudzi
    6. Imam Nasa'i
    7. Imam Ibnu Majah

  • As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut di atas selain Ahmad bin Hambal.

  • Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim.

  • Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

  • Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.

  • Rawi, perawi yaitu orang yang meriwayatkan hadits.

  • Sanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) Hadits. Sanad biasa disebut dengan Isnad berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga.

  • Matan ialah isi Hadits baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya.

Guru Mengajar, Murid Menulis

Oleh Gede H. Cahyana

Guru mengajar, bukanlah berita. Guru menulis, itu baru berita! Guru rajin mengajar dan terus mengajar tidaklah aneh. Guru yang membaca dan terus membaca, apalagi berganti dari satu buku ke buku lainnya, ini yang agak aneh. Sebab, banyak guru hanya membaca satu-dua buku. Itu pun buku-buku yang menjadi bahan ajarnya. Jarang ia membaca buku selain buku yang menjadi bahan ajarnya.

Betulkah guru malas membaca? Jika dijawab betul dan menganggap semuanya malas membaca pastilah keliru. Tak bisa semuanya disamakan seperti itu. Ada guru yang betul-betul gemar membaca. Dia membaca semua buku, tak hanya yang menjadi bahan ajarnya. Malah rutin membaca koran, sesekali membeli majalah. Buku yang dibacanya pun tak hanya buku baru yang relatif mahal harganya, tapi juga membaca buku second yang dibelinya di pasar buku murah. Namun, jarang memang guru yang seperti ini. Jarang sekali.

Guru pesuka buku, terlebih lagi kutu buku, atau pelahap buku, jumlahnya sedikit. Berapa pastinya sulit diketahui karena subjektif. Kelompok pesuka buku ini secara ekonomi mau menyisihkan uang gajinya untuk memuaskan dahaga akalnya. Gajinya tak berbeda dengan guru-guru lainnya yang malas membaca. Bedanya, dia rela memotong gajinya untuk makanan ruhaninya. Selain itu, dia juga berupaya mendapatkan uang halal dari sumber-sumber lain, tak hanya mengandalkan gajinya. Bisa lewat warung kelontong, membuat wartel, atau berkirim artikel ke media massa. Guru yang demikian pantaslah menjadi motor masyarakat-baca, minimal di hadapan murid-muridnya.

Guru menulis?
Jika membaca saja malas, mungkinkah seorang guru mampu menulis? Mampukah menghasilkan tulisan, minimal artikel yang terkait dengan bidang ilmunya? Yang lebih tinggi lagi, menghasilkan buku yang bisa menambah wawasan-baca publiknya, khususnya murid-muridnya. Mari diam-diam dideteksi apakah guru kita mampu menulis artikel di koran, majalah, tabloid kelas rendah, kelas sedang sampai kelas atas. Setiap sekolah bisa memantau apakah ada gurunya yang menulis artikel di media massa. Adakah yang sudah menulis buku umum atau buku pelajaran di vak yang ditekuninya bertahun-tahun? Berapa orang yang demikian?

Guru yang menulis itu perlu dihargai lewat hadiah, apapun ujudnya, yang penting bernilai tinggi secara intelektual dan finansial. Pemerintah, baik pemerintah daerah (Dinas Pendidikan) maupun pemerintah pusat hendaklah menganugerahkan nilai tinggi untuk setiap artikel yang ditulisnya. Apalagi kalau ditulis di koran beroplah banyak dan berkualitas tinggi. Masyarakat sudah tahu mana saja koran yang sangat selektif dalam menerbitkan artikel. Menghargai karya ilmiah atau ilmiah populer dengan nilai tinggi berarti meninggikan posisi menulis di atas membaca yang lantas diharapkan mampu membiasakan guru bersaing antarguru lewat menulis. Juga mampu mengangkat namanya di antara koleganya sekaligus mengantarkan nama sekolahnya ke seluruh penjuru daerah.

Begitu pun yang layak menjadi kepala sekolah, apalagi memegang jabatan di Dinas Pendidikan, haruslah yang prestatif dalam dunia tulis-menulis. Pertimbangkanlah kuantitasnya dan bagaimana kualitas karya tulisnya. Lebih bagus lagi kalau mampu menghasilkan buku yang diakui Ditjen Dikdasmen, mengusung Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bukan sekadar menulis LKS yang jika ditilik hanya berkutat dan berputar-putar dari itu ke itu saja. Murid menjadi malas menjelajahi dunia ilmu, tak bereksplorasi dan terus bergelut dengan hafalan di LKS. Nilai raportnya identik dengan LKS. Bahkan murid hanya menghafal jawabnya saja, tanpa perlu membaca soalnya. Hafal di luar kepala! Ini betul-betul terjadi, bukan isapan jempol. Inilah salah satu fenomena remaja kita akibat dunia sekolah yang tak bergairah, tak kompetitif dalam keilmuan.

Muridnya penulis
Lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Begitu pun, lain guru lain muridnya. Ketika guru malas membaca, tak mampu menulis, muridnya justru ada yang rajin menulis. Tidakkah ini luar biasa? Sering saya lihat murid-murid menulis di koran dan majalah. Tulisannya profesional, enak dibaca, mengalir lancar. Isinya tak kalah hebat, begitu mendalam, sampai masuk ke wilayah transenden sehingga menjadi cermin diri bagi pembacanya, menyulut semangat hidupnya. Bertanya-tanyalah saya, bagaimana gurunya, menuliskah mereka?

Saya juga kagum menyaksikan anak-anak SD yang mampu menulis novel. Bukan satu novel yang ditulisnya, melainkan sudah nyaris sama dengan jumlah jari tangannya. Sebaliknya gurunya tak menulis satu pun artikel pendek di koran, apatah lagi buku ratusan halaman. Tidakkah ini menggembirakan? Atau menyedihkan jika dilihat dari sudut pandang gurunya? Bayangkan, seorang guru yang ingin naik pangkat dan harus menulis karya ilmiah tapi karya tulisnya itu dibuat oleh orang lain. Bayarannya bervariasi, bergantung pada negosiasi. Juga terjadi, seorang guru (juga dosen) membayar sejumlah uang agar karya tulisnya dimuat di jurnal (jurnal-jurnalan). Yang juga nakal, ada guru (juga dosen) yang membayarkan sejumlah uang agar tulisannya dimuat di media massa.

Kembali ke soal murid menulis. Perlu terus "dipanas-panasi" agar murid mau terus menulis. Apabila sekarang sudah mampu menulis bagus, sekian tahun kemudian, jika mereka menjadi guru niscaya pengalamannya akan dibagikan kepada murid-muridnya. Merekalah yang lebih cocok menjadi pengganti guru-guru yang tak jua mampu menulis. Itu sebabnya, dalam rekrutmen guru selayaknya kemampuan menulis menjadi materi ujian utama. Prestasi adalah tolok-ukurnya. Ini penting agar guru jangan hanya tenggelam dalam rutinitas: datang, absen, mengajar, istirahat, mengajar lagi, lalu ngobrol dan pulang. Yang begini tak bakal mampu mentradisikan budaya baca-tulis di sekolah, apalagi di masyarakat. Lebih parah lagi adalah oknum guru dan kepala sekolah, termasuk pejabat di Dinas Pendidikan yang hanya melihat uang. Buku adalah uang. Buku adalah tender projek sehingga kasak-kusuk dengan penerbit pun sudah mendarah daging.

Kalau mengajar adalah tugas mulia, maka menulis pasti jauh lebih mulia. Menulis adalah menyebarkan ilmu. Lewat tulisan, guru mengajar orang yang membaca tulisannya dan "abadi" sepanjang masa selama tulisan itu tak dimusnahkan. Ia pun tak hanya mengajar murid di kelasnya, tapi juga semua pembacanya. Tulisan, baik artikel maupun buku, adalah warisan guru yang paling berharga. Berlombalah dalam menulis, wahai guru... agar kecakapan dan keilmuan yang dimiliki dapat digugu dan ditiru para murid sehingga mereka ikut-ikutan rajin membaca dan mencoba menulis. Sekali lagi, menulis dan menulislah! *

Gede H. Cahyana, penulis buku "Mencari Allah. Dari Kuta Bali Ke Salman ITB" dan "PDAM Bangkrut? Awas Perang Air".

Trims buat kru Aksara Salman ITB yang telah membedah buku Mencari Allah pada Kamis, 16 Februari 2006 kemarin.

Dari Mana dan Ke Mana Harta Kita?

Oleh Gede H. Cahyana

Adakah orang yang tak perlu harta? Jangankan kita yang hidup pada zaman supramodern ini, pada zaman nabi Muhammad saja orang-orang begitu giat berdagang. Ada yang merantau sampai ke Cina, malah. Tentu mereka juga menyinggahi negeri-negeri di antara Arab dan Cina, yaitu Asia Tengah. Apa tujuan mereka berdagang? Dapat uang! Dengan uang, mereka bisa membeli kebutuhan yang tak dimilikinya. Seorang tukang tenun akan membutuhkan dan membeli makanan ke penjual makanan. Begitu sebaliknya. Artinya, sejak zaman dulu posisi uang begitu tinggi. Sebelum ada uang mereka tukar-tukaran barang atau barter. Bahkan Nabi Muhammad pun berdagang yang hasilnya digunakan sebagai mahar ketika menikahi Khadijah. Ujudnya, 100 ekor unta. Bukan main, kaya sekali beliau.

Bagaimana kita? Dengan cepat bisa dijawab, kita sangat perlu harta. Bisa berupa uang, tanah, rumah atau kendaraan. Banyak lagi jenis-jenis harta lainnya. Tapi umumnya kita mencari uang dulu sebagai alat tukar lalu membeli benda apapun keinginan atau kebutuhan kita. Untuk mencarinya perlu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan juga harta. Istilahnya, orang bisa habis-habisan dalam mengejar harta. Rambu-rambu halal pun sering dilanggar dan malah menganggap zaman sekarang sudah tak perlu lagi berpikir halal-haram. Yang haram saja sulit didapat apalagi yang halal, begitu ujaran yang terdengar. Betulkah demikian?

Sumber harta, menurut Prof. Dr. Hamka, ada dua macam. Yang pertama, harta dari hasil kerja sendiri. Yang kedua dari pemberian orang lain, warisan atau hadiah yang tak disangka-sangka. Harta yang didapat dari hasil kerja sendiri masih dibagi menjadi dua lagi yaitu, harta halal dan harta haram. Andaikata sudah jelas bahwa harta itu halal, maka ambillah. Sebaliknya, kalau jelas harta itu haram, jauhilah. Jangan sekali-kali didekati sebelum menjadi terbiasa, apalagi sampai ketagihan. Sebab, kalau tidak dicegah maka kebiasaan itu akan mendarah daging dan sangat sulit ditinggalkan. Banyak orang terjerat seperti ini. Malah lingkungan kerjanya langsung membencinya kalau ingin tobat dan keluar dari lingkaran setan.

Yang jadi masalah adalah ketika harta itu dalam status, menurut pandangan kita, "pertengahan" alias ragu-ragu atau syubhat. Kalau demikian, sebaiknya juga ditinggalkan. Namun, prinsip dasarnya, jika sulit diputuskan apakah diambil atau tidak maka caranya dengan berpatokan pada yang paling sedikit haramnya dan paling banyak halalnya. Yang jadi acuan adalah hati kita, nurani kita. Sebab, nurani atau mata hati pasti tak bisa bohong. Hati harus bersih dan caranya adalah dengan dekat kepada Allah.

Setelah sumber harta itu bersih, selanjutnya jagalah ke mana saja dibelanjakan. Barang-barang yang dibeli hendaklah yang jelas-jelas halal zatnya. Jangan membeli dan menjual barang haram zatnya seperti minuman keras, narkotika, obat-obatan terlarang. Pendeknya, janganlah harta yang diperoleh dengan halal itu dibelikan sesuatu yang mengundang dan mengandung mudarat. Dibelikan televisi, kulkas, radio, HP, rumah, mobil, sepeda, dll. tentu sah-sah saja. Kalau memang butuh dua televisi, lalu membeli tiga maka yang satunya mubazir. Apalagi barang-barang yang dibeli itu sekadar untuk pamer gagah-gagahan. Inilah salah satu penggunaan harta yang menyimpang dari hakikat harta.

Yang wajib diingat, keluarkanlah zakat dari harta yang diperoleh. Sekecil apapun harta yang didapat, sisihkan paling sedikit 2,5 % untuk zakat. Kini sudah banyak lembaga amil zakat sehingga tak sulit lagi menitipkan zakat. Bisa juga diberikan langsung untuk memakmurkan masjid. Dan tak harus semata-mata untuk pembangunan fisik masjid. Bisa juga untuk perangkat lunak (software) masjid seperti buku-buku dan teknologi informasi. Zakat boleh saja dibelikan perangkat komputer (hardware) yang dilengkapi software penunjang kegiatan masjid.

Kita bisa membeli alat-alat presentasi untuk masjid seperti Overhead Projector (OHP) atau proyektor semacam Infocus yang lebih canggih lagi. Semuanya bisa digunakan untuk pengajian rutin ataupun untuk sarana belajar bagi santri masjid bersangkutan. Zakat juga bisa digunakan untuk memperkaya khazanah perpustakaan masjid. Tak harus mushaf Qur'an saja yang dibeli, tapi boleh saja membeli kaset, CD dan lain-lain yang berisi ilmu pengetahuan. Juga bisa membeli buku-buku yang mendukung keilmuan jamaah masjid dan santri termasuk sewa internet. Situs-situs kaya manfaat banyak bertebaran dan ini pun sumber ilmu.

Lebih dari semua itu, agar mampu berzakat dan membantu kegiatan masjid maka kita perlu harta. Selain ibadah ritual (mahdhah) kita pun wajib ibadah ghair mahdhah seperti bekerja. Mari simak firman Allah dalam surat Qashash ayat 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu mencari harta secara halal dan membelanjakannya di jalan Allah. Aamiin.

Gede H. Cahyana, "muallaf" yang menulis buku "Mencari Allah. Dari Kuta Bali Ke Salman ITB".

Berbaik Sangka (Husnu Al-Zhan)

Hubungan yang baik antara manusia yang satu dengan lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena, Allah Swt telah menggariskan bahwa mu'min itu bersaudara.

Itu sebabnya, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).

Oleh karena itu, apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (pengecekan) terlebih dahulu sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara negatif, Allah Swt berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" (QS 49:6)

FADHILAH DAN MANFAAT

Ada banyak nilai dan manfaat yang diperoleh seorang muslim bila dia memiliki sifat husnuzh zhan kepada orang lain.

Pertama, hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, hal ini karena berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak ada kendala-kendala psikologis yang menghambat hubungan itu.

Kedua, terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama karena buruk sangka akan membuat seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, Allah berfirman sebagaimana yang disebutkan pada QS 49:6 di atas.

Ketiga, selalu berbahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum bisa mencapainya, hal ini memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang menjadi dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini berarti kebaikan dan kejujuran akan mengantarkan kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan mengantarkan kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak negatif yang semakin banyak.

KERUGIAN BERBURUK SANGKA

Manakala kita melakukan atau memiliki sifat berburuk sangka, ada sejumlah kerugian yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

  1. Mendapat Nilai Dosa
    Berburuk sangka merupakan sesuatu yang jelas-jelas bernilai dosa, karena disamping kita sudah menganggap orang lain tidak baik tanpa dasar yang jelas, berusaha menyelidiki atau mencari-cari kejelekan orang lain juga merupakan dosa tersendiri, kemudian mengungkapkan segala sesuatu yang buruk tentang orang lain yang kita berburuk sangka kepadanya juga dosa, Allah Swt berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa (QS 49:12)

  2. Dusta Yang Besar
    Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi, karena apa yang kita kemukakan merupakan suatu dusta yang sebesar-besarnya, hal ini disabdakan oleh rasulullah Saw : "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta" (HR. Muttafaqun alaihi).

  3. Menimbulkan Sifat Buruk
    Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan pribadi maupun hubungannya dengan orang lain, sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain, dll. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda:

    "Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke syurga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (HR. Bukhari 5743 dan Ibnu Hibban 3/233).

LARANGAN BERBURUK SANGKA

Karena berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat:12 di atas. Untuk menjauhi sifat berburuk sangka, maka masing-masing kita harus menyadari betapa hal ini sangat tidak baik dan tidak benar dalam hubungan persaudaraan, apalagi dengan sesama muslim dan aktifis da'wah. Disamping itu, bila ada benih-benih di dalam hati perasaan berburuk sangka, maka hal itu harus segera diberantas dan dijauhi karena ia berasal dari godaan syaitan yang bermaksud buruk kepada kita. Dan yang penting lagi adalah memperkokoh terus jalinan persaudaraan antar sesama muslim dan aktifis da'wah agar yang selalu kita kembangkan adalah berbaik sangka, bukan malah berburuk sangka.

Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab ra menyatakan: Janganlah kamu menyangka dengan satu katapun yang keluar dari seorang saudaramu yang mu'min kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan bahwa kata-kata itu mengandung kebaikan.

Dan yang tak kalah penting adalah selalu berusaha untuk mawas diri, intropeksi dan muhasabah. Kita harus sibuk dengan diri kita, sebesar apa dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Dengan demikian, Insya Allah SWT, kita tidak termasuk yang dikatakan orang "Gajah diseberang lautan kelihatan, namun semut di pelupuk mata tidak kelihatan". Wallahu A'lam.

Ust. Mahfudz Shiddiq

Aji Mumpung

Budaya Jawa mengenal kesaktian. Orang sakti adalah orang yang memiliki kemampuan menghadapi hambatan dengan cara luar biasa, misalnya tidak mempan peluru atau senjata tajam, bisa berjalan di atas air, bisa menghilang dari pandangan mata dan sebagainya. Kesaktian ada yang diyakini bersumber dari kekuatan yang melekat pada dirinya, ada juga kesaktian yang melekat pada benda-benda tertentu. Benda yang memiliki tuah kesaktian itu disebut aji-aji, atau jimat, dari bahasa Arab 'azimat, ada yang berujud keris, cincin, besi kuning dan lain-lainnya. Orang yang ingin sakti biasanya ingin mengumpulkan benda-benda bertuah kesaktian sebanyak-banyaknya. Para pemimpin politik menginginkn aji-aji yang diperuntukkan guna memperkokoh kekuasaannya, penjahat menginginkan aji-aji untuk memperdaya korban, orang malas kerja menginginkan aji-aji yang dapat digunakan untuk memperoleh harta tanpa kerja, dan orang genit mencari aji-aji yang dapat digunakan untuk memelet lawan jenis.

Cara berfikir jalan pintas ini juga dilekatkan kepada pejabat birokrasi yang suka memperkaya diri dengan jalan pintas, yakni dengan mensiasati peraturan atau menyimpang dari aturan, atau nekad melanggar aturan demi unuk memperoleh uang banyak dalam waktu singkat. Praktek ini juga disebut korupsi. Pusat perhatian pejabat koruptor adalah pada bagaimana mengumpulkan kekayayaan sebanyak-banyaknya ke kantong sendiri selagi memegang wewenang, mumpung masih menjabat. Karena ada kesamaan cara berfikir dengan cara berfikir orang sakti yang menghadapi hambatan dengan cara luar biasa, maka kepandaian para koruptor ini disebut dengan aji mumpung, yakni memanfaatkan peluang semaksimal mungkin selagi mememegang kekuasaan.

Para pelaku aji mumpung ini memang orang yang memiliki kecerdasan menyangkut angka-angka, tetapi tidak cerdas menyangkut ruang dan waktu. Ia cerdas menghitung angka-angka rupiah yang bisa digelapkan, tetapi tidak cerdas pada ruang yang akan ditempati dan seberapa lama ia dalam keadaan tidak nyaman. Bayangkan , seorang mantan pejabat pemilik aji mumpung bisa memiliki rumah sampai 25 rumah di Jakarta, deposito dengan entah berapa digit, tapi pada usia senja pasca pensiun, ia terseret ke masalah hukum untuk mempertanggungjawbkan aji mumpungnya sewaktu menjabat, dan klimaknya tak satupun rumahnya yang bisa ditempati, karena ia harus menempati ruang kecil di penjara selama 7 tahun. Bayangkan, mestinya dalam usia senja tinggal berbahagia bersama cucu, eh.. malah waktunya harus dihabiskan di ruang sempit penjara.

Lima Aji Mumpung Positip
Jika dalam praktek korupsi, aji mumpung itu negatip, Nabi Muhammad s.a.w memperkenalkan lima aji mumpung yang positip. Salah satu hadis Rasul mengatakan; Ightanim khomsan qobla khomsin; Rebutlah lima aji mumpung sebelum datangnya lima hambatan:

  1. Hayataka qobla mautika. Mumpung masih hidup sebelum mati, pergunakanlah umur itu se produktif mungkin, karena hanya ketika hidup orang bisa berinvestasi untuk kebahagiaan akhirat nanti. Jika orang sudah mati maka produktifitasnya habis, selain tiga perkara; amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh. Maka mumpung masih hidup, perbanyak amal jariah, yakni amal yang kemanfaatannya berumur panjang dan dimanfaatkan oleh orang banyak, misalnya bikin jembatan, jalan, gedung sekolah, masjid, rumah sakit dsb. Ajarkan ilmu pengetahuan yang anda miliki kepada orang lain, maka selagi ilmu anda diamalkan, anda masih tetap dapat pahalanya, dan didiklah anak anda hingga menjadi anak saleh, karena hanya doa anak saleh yang dijamin diterima Tuhan.

  2. Syababaka qobla haramika. Mumpung masih muda, sebelum pikun, gunakan masa muda untuk belajar dan bekerja keras, karena belajar di waktu muda seperti orang melukis di atas batu, tidak mudah hilang, sedangkan belajar di waktu tua apalagi setelah pikun, seperti melukis di atas air, langsung lupa. Juga bekerja keraslah di usia muda untuk menabung, agar di usia tua nanti tinggal menikmati buah dari tanaman ketika masih muda. Orang, ketika sudah pikun, ia kembali lemah sepeti anak-anak, kembali bodoh seperti ketika belum sekolah

  3. Shihhataka qobla saqamika. Mumpung masih sehat, sebelum sakit. Sehat bukan saja kenikmatan, tetapi juga peluang. Dalam kondisi sehat orang bisa mengerjakan banyak hal, bisa mengatasi banyak hambatan, bisa mengumpulkan cadangan untuk jika sewaktu-waktu sakit. Sehat itu satu kenikmatan yang jarang disadari, baru setelah sakit orang menyadari betapa bermaknanya sehat.

  4. Ghinaka qobla faqrika,. Mumpung masih punya, masih kaya, belum bangkrut, gunakan kekayaan anda untuk hal-hal yang positip bagi orang banyak, keluarga, tetangga atau masyarakat luas, karena jika anda keburu bangkrut anda tidak lagi mampu memberi, dan baru menyadari betapa bermaknanya kontribusi orang kaya. Ciri orang kaya adalah sudah tidak punya kebutuhan dan memiliki kemampuan untuk memberi. Jika orang sudah pegang banyak tetapi kebutuhannya malah lebih banyak sehingga ia tidak mampu memberi malah mengambil jatah orang miskin, maka orang seperti itu bukanlah orang kaya. Oleh karena itu ada orang kaya harta miskin hati, dan ada orang yang miskin harta tapi kaya hati. Orang yang kaya hati, punya lima ribu rupiah masih bisa memberi empat ribu rupiah. Ayo mumpung masih kaya, belum bangkrut.

  5. Sa'atika qobla dloiqika. Mumpung masih punya kelapangan, belum terhimpit kesempitan, mumpung sempat belum sempit, gunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yang terbaik. Kesempatan sering tidak datang dua kali, jangan sia-siakan kesempatan. Jangan salah pilih dan salah mengambil keputusan ketika kesempatan terbuka. Banyak orang menggunakan "kesempatan" dalam "kesempitan" yang berujung pada penyesalan yang panjang, hanya nikmat sesaat berujung pada derita selamanya. Hati-hati terhadap permulaan kesempatan.

Wallohu a'lamu bissawab.

Wassalam,
agussyafii

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Translate